Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

Informasi tentang Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

http://ictmiliter.blogspot.com

PT DI Siap Kirim 10 Helikopter & 7 Pesawat Pesanan TNI

Published on: Wednesday, April 24, 2013 // , , , ,


Pesawat CN-235 Patmar untuk TNI AL (photo : Fahriza Alif)

Bandung - PT Dirgantara Indonesia (DI) menyelesaikan produksi belasan pesawat dan helikopter pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI untuk kebutuhan alutsista tiga satuan TNI. Jumlah transportasi udara yang diracik PT DI terdiri dari 10 helikopter dan 7 pesawat.

Juru Bicara PT DI Sonny S Ibrahim mengatakan pesanan yang akan diserahkan pada 2013 ini masing-masing tiga unit pesawat CN 295 untuk TNI AU, tiga unit pesawat CN 235 PATMAR untuk TNI AL, satu unit pesawat jenis NC 212 untuk TNI AU, dan satu unit helikopter jenis Super Puma NAS 332 untuk TNI AU.

"Untuk 2013 sudah enam unit helikopter Bell 412 EP diserahkan kepada TNI AD. Satu lagi di tahun ini segera menyusul," jelas Sonny kepada wartawan di kantor PT DI, Bandung, Rabu (24/4/2013).

Helikopter Bell 412 EP untuk TNI AD (photo : Detik)

Sonny menambahkan, alat transportasi udara itu diproduksi sejak 2011-2012. Ia menegaskan, seluruh pesawat dan helikoter tersebut dilengkapi intial spare part.

"Semua pesawat yang diserahkan Kemhan untuk TNI, PT DI menjamin kelaikan terbangnya sesuai dengan persyaratan pengguna dan regulasi pemerintah untuk pesawat militer. Intinya, PT DI siap mendukung alutsista dalam negeri," tutur Sonny.

Pada 2014-2015, sambung Sonny, PT DI sudah siap menyelesaikan pesawat dan helikopter pesanan Kemhan.

Rencananya guna memenuhi kebutuhan TNI AU, 2014 diserahkan dua unit CN 295, dan dua unit pesawat sejenis diserahkan 2015. Di 2014 satu unit Super Puma NAS 332 diserahkan ke TNI AU. Sementara enam unit helikopter Cougar EC 725 dipesan TNI AU, PT DI akan menyerahkan dua unit pada 2014 dan empat unit pada 2015 mendatang.

(Detik)

F-16 Fighting Falcon

Published on: // , ,


F-16 Fighting Falcon (Foto 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 3). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 4). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 5). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Galeri Wallpaper Foto Jet Tempur F-16 Fighting Falcon :
F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. Pesawat ini sangat populer di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.

F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.

Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995. Pada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) dan F-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.

Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka. Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.

Kolonel John Boyd mengembangkan teori tentang perawatan energi pada pertempuran pesawat tempur, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25yang saat itu kemampuannya terlalu dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.

Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).

Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini diubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.

Spesifikasi Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon

Karakteristik Umum :
  • Kru: 1
  • Panjang: 49 ft 5 in
  • Lebar sayap: 32 ft 8 in
  • Tinggi: 16 ft
  • Luas sayap: 300 ft²
  • Airfoil: NACA 64A204 root and tip
  • Bobot kosong: 18,238 lb
  • Bobot terisi: 26,463 lb
  • Bobot maksimum lepas landas: 42,300 lb
  • Mesin: 1 unit Pratt & Whitney F100-PW-220 afterburning turbofan
  • Alternate powerplant: 1× General Electric F110-GE-100 afterburning turbofan
Kinerja :
  • Laju maksimum: >Mach 2 (1,320 mph, 2,124 km/h) at altitude
  • Radius tempur: 340 mi on a hi-lo-hi mission with six 1,000 lb (450 kg) bombs
  • Jarak jangkau ferri: >3,200 mi
  • Batas tertinggi servis: >55,000 ft
  • Laju panjat: 50,000 ft/min
  • Beban sayap: 88.2 lb/ft²
  • Dorongan/berat: F100 0.898; F110 1.095
Persenjataan :
  • Senjata api: 1 unit M61 Vulcan gatling gun kaliber 20 mm (0.787 in), 511 putaran
  • Roket: 2¾ in (70 mm) CRV7
  • Rudal: Air-to-air missiles: 6× AIM-9 Sidewinder, 6× AIM-120 AMRAAM, 6× Python-4. Air-to-ground missiles: 6× AGM-65 Maverick, 4× AGM-88 HARM, 4× AGM-119 Penguin
  • Bom: 2× CBU-87 cluster, 2× CBU-89 gator mine, 2× CBU-97, 4× GBU-10 Paveway, 6× GBU-12 Paveway II, 6× Paveway-series laser-guided bombs, 4× JDAM, 4× Mk 80 series, B61 nuclear bomb
wikipedia.org

Video Jet Tempur F-16 Fighting Falcon :

Bundling Israel Paves Way for Pentagon Sale of Strike Weapons to Saudi-Arabia, UAE

Published on: Monday, April 22, 2013 // , , , ,

osprey_mountains
A MV-22 Osprey from Marine Medium Tiltrotor Squadron 261, based out of Marine Corps Air Station New River, N.C., makes one of many landings, June 25, in training area Dodo at the Mountain Warfare Training Center in Bridgeport, Calif. Photo: Lance Cpl. Michael Nerl, USMC
The US is preparing a multi-billion arms deal that will include the sales of advanced fighter planes, air-to-ground strike weapons and special mission aircraft to Israel, Saudi Arabia and the UAE. The total value of these packages is expected to exceed $10 billion.
As part of these sales the United States has agreed to deploy standoff precision attack weapons to Saudi Arabia and the UAE. Although the exact type of anti-radiation or standoff weapon has not been detailed by the Pentagon, it is believed that those weapons are the AGM-154C Joint Stand-Off Weapon (JSOW-C) built by Raytheon,
to be carried by Boeing F-15SA and Lockheed Martin F-16 Block 60s, and Advanced Anti Radiation Guided Missile (AARGM – AGM-88E) destined for the Israeli F-16s and F-15s.
The sale of advanced strike weapons has always been a sour issue for US exports, as such plans traditionally encountered opposition in Congress. Last month the US lost an opportunity in South Korea, after Seoul opted to buy a German weapon after failing to get approval for buying the US JASSM. Sales of strike weapons to Middle Eastern air forces met similar opposition, strengthened by Israeli supporters on the Hill.
This time the arms packages are bundled in a way that could defuse potential opposition often raised by plans to transfer offensive weapons to Middle Eastern countries. “A key part of the agreement is that we believe, and the Israelis believe, that [providing] these capabilities in no way diminishes Israel’s qualitative military edge, but are consistent with [the need to] commonly address threats in the region.” Pentagon official said. The United States will jointly train with the Emirati and Saudi pilots, as has been the case for other sales of military aircraft, he noted, adding that “There will be enhanced end-use monitoring consistent with what we provide with sensitive technology to our other allies and partners around the region… and there will be consultations prior to any of the weapons’ deployment.”
Defense Secretary Chuck Hagel is expected to discuss and finalize the agreements on these arms sales this week, during his visits in Israel, Jordan, and Saudi Arabia. According to senior Pentagon sources, the secretary’s a six-day trip will includes meetings with counterparts and officials in Israel, Jordan, Saudi Arabia, Egypt and the United Arab Emirates. Sources said Hagel plans to discuss the ‘historic arms deal’ that involves Israel, Saudi Arabia and the UAE, along with the situations in Syria, Iran, and the Sinai Peninsula.

TNI AU Kejar Target Tahun 2013 Lengkapi Skadron Sukhoi

Published on: // , ,


(MDN), Jakarta – Dalam rangka pencapaian modernisasi peralatan Alutsista TNI Angkatan Udara akan mengejar target untuk melengkapi pesawat tempur jenis Sukhoi di Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin sebanyak 16 Unit di Tahun 2013.

“Sesuai dengan perencanaan semestinya tahun 2014, akan tetapi khusus skadron 11 yang alutsistanya pesawat tempur Sukhoi kita akan dorong di tahun 2013 sudah lengkap. Jadi  kesimpulan persiapan bahwa di dalam 2014 ini kita akan lengkap skadron 16 unit dan sudah mengudara semua, “ Ungkap Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddi, Kamis (18/4) saat meninjau Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Dijelaskan  Wamenhan, dengan datangnya 2 unit pesawat Sukhoi jenis MUSU-30 MK2 pada bulan Februari lalu, saat ini TNI AU sudah memiliki 12 unit pesawat jet tempur Sukhoi tipe Su-27 SKM dan Su-30 MK2 buatan industri pesawat terbang Rusia,  Konsomolsk-Na Amure Aircraft Production Associattion (KNAPO). Sisanya masih menunggu kedatangan 4 unit pesawat dari 6 unit yang terakhir di pesan oleh Indonesia dari Pabrikan Rusia. Diharapkan sisanya bisa kembali datang pada bulan Juni 2013, sehingga Skadron 11 ini sudah dilengkapi dengan 16 unit pesawat. 
 
Wamenhan mengatakan, perjalanan moderanisasi Alutsista TNI AU sudah on the track, tinggal sekarang akan mengejar  jadwalnya. Tentunya perencanaan ini harus didukung dengan administrasi keuangan dari negara. Kemhan memiliki tugas untuk menuntaskan sampai dengan perjalaann Kabinet Indonesia Bersatu selesai pada tahun 2014 maka organisasi peralatan militer juga harus selesai karena itu bagian dari pertanggungjawaban pemerintah

Lebih lanjut Wamenhan menjelaskan rencana kelengkapan unit pesawat di Skadron 11 ini juga harus sejalan dengan adanya dukungan konstruksi sistem yang bisa mengcover seluruh pesawat. Selain itu juga dengan adanya keperluan fasilitas mesin simulator untuk bisa melatih efisiensi dan juga bisa melatih tekhnis non taktis dari para pilot penerbang tempur. Sehingga nantinya tidak perlu lagi mengirimkan pilot penerbang tempur keluar negeri untuk melatih skill tekhnis mereka.

“Alat simulator itu harus ada dipangkalan ini, itu akan kita jadikan paket bahwa kita punya satu skadron harus ada simulator agar bisa mengimbangi latihan penerbang.” jelas Wamenhan.

Disampaikan  Wamenhan, mengenai pengadaan unit latih simulator ini akan direncanakan di tahun 2014. Tetapi jika simulator ini belum sampai, untuk sementara waktu para pilot penerbang akan di kirimkan ke negara yang memiliki fasilitas simulator salah satunya negara china karena sudah merupakan bagian dari kerjasama pertahanan Indonesia dengan Tiongkok.

Transfer Technology
Ketika menanggapi  Alih Teknologi Pesawat Tempur Sukhoi dengan pihak Rusia, Wamenhan mengakatan untuk sementara waktu didalam rencana strategis belum sampai mengalihkan teknologi untuk membuat pesawat. Dengan arti lain targetnya baru sampai alih teknologi pemeliharaan pesawat(Maintanance Facility Center).

“ Untuk alih teknologi pesawat itu tidak mudah jadi sementara kita dengan pihak Rusia akan membangun Joint Facilities Center. Karena di dalam satu skadron harus dipenuhi untuk fasilitas tersebut supaya tidak mengirimkan kembali ke luar negeri,” Kata Wamenhan.

Pada saat meninjau Skadron 11 Wamenhan juga mengingatkan untuk selalu sama-sama memperhatikan di dalam penggunaan anggaran pertahanan. Seiring dengan hal itu faktor ketertiban dan Akuntabilitas menjadi sangat penting untuk menghindari kekhawatiran akan terjadinya keborosan dan kebocoran di dalam penggunaan anggaran pertahanan.

" Perlu sama-sama kita perhatikan juga adalah tertib di dalam penggunaan anggaran pertahanan, jadi semua berpikir akuntabel dan tidak salah didalam penggunaan anggaran pertahanan karena sangat ketat dibandingkan dengan sasarannya.“Jika kita tidak tertib didalam penggunanannya itu dikhawatirkan akan terjadi istilah “BOBO” atau Boros dan bocor. Dan itulah komitmen kita untuk mengerjakannya untuk mencegah keborosan dan kebocoran tersebut,” tegas Wamenhan.

Kunjungan Wamenhan ke Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin kali ini dalam rangka High Level Committee (HLC) untuk mengendalikan dan mengawasi perkembangan dari persiapan modernisasi peralatan Alutsista TNI untuk pencapaian 2014.

Saat meninjau Skadron Sukhoi Wamenhan didampingi oleh Komandan Lanud (Pangkalan TNI AU) Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Barhim, dan Komandan Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Letkol Pnb (Penerbang) Dedy S Salam .

PESAWAT CN 235 MPA BERPELUNCUR RUDAL HARPOON

Published on: // , , ,


CN 235 MPA
JKGR PT. Dirgantara Indonesia telah  melakukan uji terbang CN-235 MPA pesanan TNI-AL pada Jumat 5 April 2013 lalu. Uji terbang dilangsungkan dengan rute dari Bandung hingga Kawasan Pangandaran dengan waktu tempuh 1,5 jam. Uji terbang berlangsung sukses dan pesawat mendarat dengan selamat.


Berbeda dengan CN-235, pesawat patroli pesanan TNI-AL ini menggunakan desain winglet pada ujung sayap. Winglet dipercaya mampu mengefisienkan gaya hambat, yang juga penghematan bahan bakar. Dengan penghematan bahan bakar ini, CN 235 MPA bisa lebih lama di udara sehingga cocok untuk operasi maritim.


Dari foto-foto terlihat radar pesawat akan ditempatkan pada perut pesawat, seperti konfigurasi CN-235 milik Coast Guard Korsel. Selain itu terdapat pula bubble window pada bagian belakang pesawat. Jendela gembung ini berfungsi sebagai tempat awak pesawat melakukan pengamatan secara visual. Namun isi serta peralatan yang dipasang kedalam tubuh CN-235 ini belum diketahui secara pasti.


CN 235 MPA (arc.web.id)


CN 235 MPA produksi PT DI merupakan pesawat medium-range twin-engined yang bisa dipasang: Radar  Seaspray 4000 dari BAE Systems, Radar AN/APS-134 produksi Raytheon atau Ocean Master 100 buatan Thales.


Menurut airforce-technology.com , perusahaan elektronik pesawat dan defence system Thales, telah menandatangani MoU  dengan PT DI pada Mei 2000 untuk menyuplai piranti AMASCOS yakni, Airborne Maritime Situation Control System, termasuk juga Ocean Master search radar produksi Thales dan EADS. MoU itu juga meliputi pengadaan piranti: Elettronica ALR 733 radar warning receiver, The Chlio thermal imager buatan Thales Optronique, Gemini navigation computer  dari Thales  Avionics  serta  AN/ASQ-508 magnetic anomaly detection (MAD) system dari CAE.


Lebih jauh lagi, CN 235 MPA ini akan dilengkapi tiga hardpoints di bawah masing-masing sayapnya yang mampu membawa Rudal Anti kapal Harpoon. Menurut airforce-technology.com CN 235 MPA Indonesia  mampu membawa dua torpedo mk46 atau exocet M-39 air-launch anti-ship missiles.  Hardpoint sisanya kemungkinan ditujukan untuk mengangkut rudal anti pesawat, sebagai pertahanan diri.

Departemen Pertahanan memesan 24 CN 235 ke PT DI, termasuk 6 pesawat untuk maritime reconnaissance TNI AL serta tiga untuk TNI AU.

Boeing’s Concept Design for a Naval Manned/Unmanned Strike Fighter

Published on: // , ,


Boeing's next generation multi-role strike fighter could be built in manned or unmanned versions. The F/A-XX is addressing a US Navy requirement for a future fighter that will be designed for anti-access/area denied (A2AD) operational environment. Illustration: Boeing
Boeing’s next generation multi-role strike fighter could be built in manned or unmanned versions. The F/A-XX is addressing a US Navy requirement for a future fighter that will be designed for anti-access/area denied (A2AD) operational environment. Illustration: Boeing
Selama beberapa dekade, Naval US (Pusat Penerbangan Angkatan Laut AS) telah menjadi pengguna utama produksi Boeing. Sejak Angkatan Laut AS memutuskan untuk mendukung Pesawat stealth F-35C sebagai pesawat masa depan, bahkan sebelum pesawat tempur Generasi Kelima  mengudara, Boeing telah tergerak  untuk merancang pesawat tempur 'Generation Keenam'.
Dalam Pameran Liga Angkatan Laut  Sea-Air-Space  di Washington DC, Boeing telah meluncurkan versi terbaru dari konsep peswat tempur generasi keenam F/A-XX, Dave Majumdar melaporkan di line blog  DEW nya. Boeing menyajikan desain ini dalam menanggapi permintaan Angkatan Laut AS untuk konsep untuk pesawat masa depan 'F / A-XX' - pesawat yang akan menggantikan Pesawat fighter saat ini untuk jangka waktu sampai dengan 2030, seperti Super Hornet dan Growler telah mulai mendekati batas umurnya. Dalam dekade ini dan 2020s Angkatan Laut berencana untuk menggantikan pesawat Boeing F/A-18 (model A - model D), dengan Pesawat Stealth Lockheed Martin F-35C. 
Pesawat Super Hornets diharapkan tetap masih dapat dipakai sampai dengan tahun  2030. 
Dengan Menggunakan Pesawat Tempur F/A-XX, pihak Naval berusaha untuk dapat memperluas pertahanan udara AS dan memperluas kemampuan menyerang dari pesawat yang sudah dicapai oleh Pesawat F/A-18 dan F-35.
Perusahaan Boeing menampilkan pesawat tempur  multi-role strike fighter generasi berikutnya dapat dibuat dalam versi dua versi (pesawat berawak atau atau nir-awak), yang dirancang untuk lingkunganan operasional anti-access/area tertutup (A2AD)l. 
Secara umum pesawat tempur ini  berkemampuan stealth dengan ekor pesawat kecil, dan mengunakan mesin ganda. Tidak seperti desain umumnya pesawat siluman (B2, F-22, F-35) pesawat tempur Boeing F/A-XX mempunyai bentuk sayap canard, yang berpotensi membahayakan kemampuan mesin pesawat. Dalam  pesawat berekor kecil ini tambahan refleksi radar dari ekor canard horisontal pesawat akan diimbangi dengan penghapusan refleksi yang akan dihasilkan oleh pesawat ekor vertikal dan horizontal yang digunakan dalam F-35 dan F-22. Desain Boeing juga dilengkapi lubang aliran udara masuk supersonik seperti yg di dapatkan pada  pesawat stealth F-35 Joint Strike Fighter Lockheed Martin. 
Menurut Majumdar, kurangnya permukaan ekor vertikal menunjukkan pesawat tersebut telah dioptimalkan oleh sisi broadband yang akan diperlukan untuk operasi yang paling menantang di lingkungan A2AD.
Lockheed martin fokus pada order F-35 sesuai jadwal dan biaya yang menjadi tantangan terbesar, tetapi perusahaan juga melihatnya sebagai generasi masa depan, perusahaan juga merilis konsep artistikn yang  menggambarkan bagaimana pesawat tempur generasi berikutnya' bisa ditampilkan.


A concept illustration of Lockheed Martin 'Next Generation Fighter'.
A concept illustration of Lockheed Martin ‘Next Generation Fighter’.

Top 5 Fighter Planes Under Development

Published on: // , ,




F-35: 

The Lockheed Martin F-35 Lightning II is a family of fifth-generation, single-seat, single-engine stealth multirole fighters. After entering service it would be considered as the  most advanced fighter aircraft in the world, performing ground attack, reconnaissance, and air defense missions.
The F-35 Lightning II, also known as the Joint Strike Fighter (JSF), integrates advanced very low observable stealth into a supersonic, highly agile 5th generation fighter. The capabilities built into the F-35 Lightning II provide the pilot with unprecedented situational awareness and unmatched lethality and survivability.

Some of its salient features are :
- Dominates all adversaries in the air or on the surface.
- Has the ability to survive and prosecute the most formidable threats expected to emerge beyond 2020.
- Conducts air-to-air and air-to-ground combat missions simultaneously.
- Incorporates the most powerful and comprehensive sensor and mission avionics package ever to fly in a fighter.


Sukhoi’s T-50  PAK FA:

The Sukhoi PAK FA is a fifth-generation jet fighter being developed by Sukhoi for the Russian Air Force.The current prototype is Sukhoi’s T-50. The PAK FA, when fully developed, is intended to replace the MiG-29 Fulcrum and Su-27 Flanker in the Russian inventory and serve as the basis of the Sukhoi/HAL FGFA project being developed with India. As a  fifth generation jet fighter, it is designed to directly compete with Lockheed Martin’s F-22 Raptor and F-35 Lightning II. The T-50 performed its first flight January 29, 2010.Its second flight was on February 6 and its third on February 12. As of August 31, 2010, it made 17 flights in total.Sukhoi director Mikhail Pogosyan has projected a market for 1,000 aircraft over the next four decades, which will be produced in a joint venture with India, two hundred each for Russia and India and six hundred for other countries.He has also said that the Indian contribution would be in the form of joint work under the current agreement rather than as a joint venture. The Indian Air Force will “acquire 50 single-seater fighters of the Russian version” before the two seat FGFA is developed. The Russian Defense Ministry will purchase the first ten aircraft after 2012 and then 60 after 2016.



Medium Combat Aircraft (MCA):

The Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA), formerly known as the Medium Combat Aircraft (MCA), is a twin-engined 5th generation stealth multirole fighter being developed by India. It will complement the HAL Tejas, the Sukhoi/HAL FGFA, the Sukhoi Su-30MKI and the yet undecided MRCA in the Indian Air Force. The main purpose of this aircraft is to replace the aging SEPECAT Jaguar & Dassault Mirage 2000. The Medium Combat Aircraft [MCA] is envisioned as a replacement for the British Jaguar and Mirage 2000 the IAF flies, which as of 2002 were to be phased out by 2015. Development costs were expected to be over US $2 billion. At that time, India’s DRDO intended to develop a stealth Medium Combat Aircraft, a further extension of its LCA design, in order to replace the Jaguar and Mirage inventory beginning around 2010.The MCA designers plan to pursue technologies superior to anything currently on offer. India’s aeronautical designers see the MCA programme as crucial for taking forward the expertise that has been painstakingly accumulated in the Tejas LCA programme.


J-XX Stealth Fighter:

China has already launched its next generation stealth fighter aircraft programme, and Shenyang Aircraft Industry Co. (SAC) has been selected to head research and development of a new fighter for the PLA Air Force (PLAAF). According to the reports, development of the subsystems including the engine and weapon suite for the next generation fighter, which was code named by the Western intelligence as J-XX, has been underway for some time. Images of the concepts show a twin-engine aircraft sharing some design traits with Lockheed Martin’s stealth F/A-22 “Raptor” multirole fighter such as the internal carriage of its weapons.

Not too much public information about the programme is available at the moment. Sources within China’s confirmed that the SAC is looking at a twin-engine, single-seat, single vertical tale fin design, but other design proposals has yet been ruled out.  As China has developed close ties with Russia’s aerospace industry and has license produced many planes of formal Soviet designs, it can be predicted that the J-XX would include some, if not many Russian technologies and designs. China has been offered a ‘joint development and production’ of a new fifth-generation fighter by Russia -LFI. Russia has been trying to sell this concept both to China and India for some time, but neither of them has committed fully yet. Stealth and thrust vectoring are two must-have features in all aircraft being designed in the 21st century. It is not clear that how much progress Chinese designers have made in these areas, and Chinese aircraft industry may have to take Western/Israeli/Russian helps to make the J-XX truly fouth-generation (or fifth-generation using the Russian standards). Once introduced, the J-12′s immediate rival will be U.S. F/A-22, JSF and India’s MCA (Medium Combat Aircraft).


JASDF Stealth Fighter ATD-X:

JASDF (Japan Air Self-Defense Forces) planners have been attempting to acquire the American F-22 Raptor jet fighter to replace their current F-15 Eagle fighter planes. The F-22 Raptor is packed with the latest avionics and stealth technology but its high tech features have the Pentagon concerned about security leaks. Even though the United States would lose out financially by not selling Japan the F-22, security issues are front & center these days and Japan is now looking to its own aircraft designers to provide a home-grown solution.


The Mitsubishi ATD-X Shinshin is a Japanese aircraft being developed by the Ministry of Defense Technical Research and Development Institute (TRDI) for research purposes. ATD-X is an acronym which represents “Advanced Technology Demonstrator – X”. The main contractor is Mitsubishi Heavy Industries. This aircraft will be used as a technology demonstrator and research prototype to determine whether domestic advanced technologies for a fifth generation fighter aircraft are viable. The aircraft’s first flight is scheduled for 2014. The design of the aircraft reflects those of several American fourth and fifth generation fighters, most notably the F-22. Japan is set to develop its own next-generation stealth fighter jets to reduce its dependence on foreign technology and counter similar moves by China and Russia.
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!