Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

Informasi tentang Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

http://ictmiliter.blogspot.com

Published on: Thursday, April 25, 2013 // , ,


PT.DI "Dilangit Kita Jaya"




VIVAnews - Hari sudah tengah malam. 10 Agustus 1995. Larut malam begitu, sudah banyak orang terlelap. Tapi laki-laki ini baru bergegas. Dia menyalakan mobil di garasi. Lalu menginjak pedal gas. Sendirian dari Bandung melaju ke Jakarta. Meliuk melewati bukit dan lembah. Saat itu Padalarang belum bersambung. 

Rakhendi Priyatna, begitu nama pria ini, harus cepat sampai di Jakarta. Subuh hari, dia harus menyambut 40 wartawan di Halim Perdanakusumah.  Dan banyak wartawan dari manca negara. Hari itu, kawasan Halim memang membetot mata Indonesia, bahkan Asia.

Dan itu karena Gatotkaca. Sebuah pesawat N250 buatan Indonesia yang namanya dicuplik dari tokoh pewayangan yang dicintai banyak orang itu. Hari itu, si Gatotkaca ini terbang perdana. Dan acara ini lebih dari sekedar menerbangkan pesawat, tapi juga tanda kedigdayaan ekonomi Indonesia. Di udara kita jaya.

Rakhendi berkisah. Pukul 8 pagi, menjelang lepas landas, semua orang gelisah. Terutama mereka yang bekerja keras di balik layar Gatotkaca. Para insinyur PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang menciptakan pesawat ini. Jika gagal seribu malu dipikul bangsa.

"Rasanya bercampur aduk. Panas dingin. Semua orang khawatir pesawat itu gagal terbang atau trouble di udara,” kisah Rakhendi kepada VIVAnews. Apalagi Presiden Soeharto dan para petinggi bangsa sudah berdiri gagah di panggung kehormatan. Kamera para wartawan asing sudah membidik.

Tepuk tangan bergemuruh.  Erwin Danuwinata, pilot penguji N250 Gatotkaca berkapasitas 70 penumpang itu sukses mendaratkan pesawat dengan mulus. Semua bersorak-sorai. Gembira campur rasa haru. Indonesia terselamatkan. Industri dirgantara Indonesia sontak menjadi sorotan dunia.

Hari gembira itu tinggal kenangan. Pernah dikagumi negeri tetangga, pabrik pesawat itu lama mati suri. Ada dua pesawat tersisa. N250 dan N250-100.  Diparkir di halaman kantor IPTN, yang kini berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Bandung Jawa Barat.

***

Lama mati suri, perusahaan itu kini bernafas lagi.  Dua tahun belakangan dia berbenah. Revitalisasi. Restukturisasi. Meremajakan mesin. Merekrut insinyur. Kini perusahaan itu sedang mempersiapkan sebuah pesawat baru: N219

N219. Inilah nyawa baru PT DI. Prototipe pesawat multi guna ini berkapasitas 19 penumpang. Mengelaborasi teknologi sistem pesawat paling modern. Dibangun dengan konstruksi logam pesawat. Kokoh.

Memang tidak secanggih N250. Bersahaja. Bahkan boleh dibilang sangat  sederhana. Direktur utama perusahaan itu, Budi Santoso, kepada VIVAnews menyebutkan, "Ini adalah yang termurah. Tapi, ada segmen pasarnya.” 

Selain untuk bisnis, pesawat ini adalah wahana belajar  para insinyur baru.  Agar mereka tahu bagaimana membuat pesawat dalam satu siklus. Dari nol sampai terbang.

Kendati sederhana, menurut Direktur Aerostruktur perusahaan itu,  Andi Alisyahbana, pesawat N219  asli 100 persen karya anak bangsa. "Ini penting karena sampai saat ini jarang sekali ada produk industri dan rekayasa yang benar-benar dirancang oleh anak bangsa," tuturnya kepada VIVAnews.

Pesawat ini, lanjutnya, bisa memaksa generasi yang hampir hilang. Generasi N250. Agar segera menurunkan ilmunya kepada generasi baru.

Inilah N219 Itu



N dalam nama itu adalah Nusantara. Menunjukkan bahwa desain, produksi, dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia. Meski baru prototipe, pesawat ini akan segera disertifikasi CSAR (Certified Specialist in Asset Recovery) 23. Artinya, sudah teruji sebagai produk mekanik berdasarkan standar Amerikat Serikat dan Kanada.

Rancangan pesawat ini telah lulus uji aerodinamika. Ketika itu, PTDI menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai penguji. Jika sudah siap, pesawat ini akan diterbangkan ke daerah terpencil. Menjadi perintis.

Pesawat N219 merupakan pengembangan dari pesawat CASA C-212 Aviocar. Termasuk desain dan semua konstruksi logam. Volume kabin terbesar di kelasnya. Lengkap dengan sistem pintu fleksibel. Bisa memuat penumpang secara lebih efisien. Bisa menjadi alat transportasi kargo. 

Bobot bersih pesawat ini 4,7 ton. Telah memenuhi unsur pesawat kecil menurut  standar FAR 23. Bisa menjangkau jarak maksimal 1.111 kilometer. Kurang lebih sama dengan jarak terbang Jakarta ke Balikpapan.

Meski mungil, daya tampung pesawat ini terbilang besar. Hingga tujuh ton. Sayap sepanjang 19,5 meter mampu membuat logam sepanjang 16,5 meter dan tinggi 6,1 meter ini melayang-layang di ketinggian maksimal 10.000 kaki dari permukaan laut.

Berbeda dengan pesawat populer PTDI, CN235, yang dirancang untuk kebutuhan militer dan sipil, pesawat N219 sengaja didesain hanya untuk kebutuhan sipil. Jika CN235 bisa menampung 42 penumpang, N219 hanya 19 penumpang. Dengan begitu dia bisa dioperasikan pada daerah dengan kondisi alam ekstrim dan tingkat kesulitan yang tinggi. Seperti landasan tak beraspal di wilayah pegunungan. Di wilayah kepulauan.

Sejumlah teknologi unik telah diadopsi. Konstruksi badan dan sayap dari aluminium. Mesin off the shelf  yang banyak digunakan dalam dunia penerbangan. Sistem teknologi di dalamnya sudah modern. Reliable, dan mudah dalam perawatan.

"Teknologi Avionic N219 adalah teknologi termodern sekarang ini. Menggunakan Glass Cockpit dengan fitur synthetic vision untuk membantu pilot mendapatkan informasi navigasi yang akurat meskipun cuaca buruk,” kata Andi Alisjahbana. Sangat membantu ketika ingin terbang ke daerah terpencil.

N219 ini diharapkan bisa menggantikan pesawat Twin Otter. Sempat populer di era '70-'80an, pesawat jenis ini telah usang. Tidak diproduksi lagi, meski beberapa kerap ditemui di Indonesia.

Satu-satunya kelemahan pesawat ini, kata Andi, adalah urusan psikologis.  PTDI bukan lagi IPTN. Dia dan tim merasa perlu mempopulerkan nama dan reputasi PTDI di kalangan masyarakat luas.

Cerah atau Suram?

Sejatinya, rancangan pesawat ini sudah jauh. Sudah melewati Preliminary Design. Beberapa uji wind tunnel sudah dilakukan. Kini urusannya tinggal dana. Perusahaan itu memang tengah mengumpulkan uang untuk megaproyek ini.

Mestinya tak sulit. Sebab pasar terbuka lebar. Untuk 20 tahun ke depan kebutuhan pasar pesawat kelas 9-20 kursi di dunia diproyeksi mencapai 5.350 unit. Dari jumlah itu, kebutuhan di Asia Pasifik 549 unit. Itu sebabnya diperlukan komitmen jangka panjang. Jangan berpikir bikin hari ini, besok untung.

Program membangun pesawat bukanlah program tiga tahun. “Tetapi 20 tahun lebih hingga pesawat itu diproduksi,” kata Andi. Di negara mana pun, program pesawat terbang adalah usaha yang besar. Perlu dukungan pemerintah. Juga masyarakat.

Mewujudkan mimpi besar ini, PT DI tak bisa sendirian.  Instansi lain perlu terlibat. Seperti Kementerian Riset dan Teknologi untuk pengembangan. Kementerian Perindustrian untuk persiapan industri nasional pendukung. Serta Kementerian Perhubungan untuk sertifikasi dan operasi. 

“Integrasi semua instansi menjadi harga mati. Jika tidak, industri dirgantara akan tetap tertidur lelap,” kata Andi.  Dari segi teknis proyek ini sudah siap. Tinggal menunggu dana dari konsorsium kementerian. 

Dana yang diperlukan sekitar Rp600 miliar. PTDI sendiri telah membenam uang  Rp100 miliar untuk mendesain dan menyiapkan banyak hal. Perusahaan ini juga telah menyiapkan dana Rp100 miliar agar proyek terus menyala. 

Tapi para petinggi perusahaan itu masih hati-hati. Terutama dalam soal uang. Jika dana sudah dikucurkan, dan ternyata Konsorsium Kementerian tidak mendukung, maka tamatlah proyek ini. “Gagal seperti N-250," kata Budi Santoso

Published on: // , ,

Bangkitnya Kembali Industri Pesawat Terbang Indonesia





VIVAnews – Sebuah pesawat CN 235 Maritime Patrol (MPA) pesanan TNI Angkatan Laut terparkir di hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Berkelir hijau, pesawat itu baru saja lulus uji coba terbang selama satu jam di langit Jawa Barat awal April 2013 lalu.
Para teknisi PTDI berkerubung di pesawat seharga US21,5 juta per buahnya itu. Burung besi produksi PTDI bekerjasama Airbus Military itu hendak diperkuat dengan radar pengintai lautan, dan kamera beresolusi tinggi.
“Radar itu dapat melihat hingga 200 meter di bawah permukaan laut,” kata mantan Kepala Humas PTDI, Rakhendi Priatna yang menemani VIVAnews berkeliling di pabrik pembuatan pesawat PTDI, di lahan seluas 80 hektar, awal April 2013 lalu.
Di belakang CN 235 MPA, tampak antri dua pesawat lainnya.  Semua menunggu kelihaian tangan para teknisi. PTDI memang saat ini tengah kebanjiran berbagai pesanan pesawat, khususnya CN 235. Pada 2012, PTDI berhasil membuat empat unit CN 235, dua unit NC 212, dua unit Super Puma, satu unit CN 195 dan 12 unit Bell 412.
Setelah terpuruk dihajar badai krisis moneter 1997,  perusahaan itu kini mencoba bangkit. Hanggar yang dulu sempat sepi, kini ramai dengan beragam pekerjaan.  Order mengalir, dan rezeki pun tumpah. Setelah merugi sembilan tahun, baru pada 2012 perusahaan menangguk laba.
Terakhir, rapor keuangannya biru pada 2002, dengan laba bersih Rp11,26 miliar. Setelah itu, kantong PTDI pun kempis.   Hutangnya seawan, dan nyaris kolaps. Sekitar 16 ribu karyawan dipecat, dan hanya  tersisa 4.000.  Para insinyur terbaik pun hengkang ke berbagai pabrik pesawat dunia.
Lebih tragis lagi, perusahaan perakit pesawat itu sampai terpaksa membuat panci agar bisa bertahan hidup. “Sepanjang 2003 hingga 2007 PTDI ini tak pernah tutup buku. Sehingga kami harus mulai tutup buku 2003-2007,” kenang Direktur Utama PTDI, Budi Santoso.
Budi bukanlah orang baru di PTDI. Ia bergabung sejak 1987, saat masih bernama IPTN. Pada 1998 lalu, ia pindah menjadi Direktur Utama PT Pindad, dan berhasil. Pada 2007 lalu, doktor ilmu robotika dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, ini diminta pemerintah membenahi PTDI.
Saat ia baru memimpin, Budi dicegat oleh banyak persoalan. Ribuan bekas karyawan berdemonstrasi menuntut pesangon. Dan soal itu terus menguras energinya. Ditambah beban hutang, khususnya hutang kepada pemerintah yang mencapai Rp3,8 triliun. Kas  keuangan PTDI kandas saat itu.
Dia lalu membereskannya tahap demi tahap. Pada 2009, semua urusan masa lalu itu kelar. Setelah diaudit BPK, instansi pajak, dan berbagai lembaga, utang ke pemerintah itu pun beres. “Kami minta utang kepada pemerintah dikonversi menjadi modal. Duitnya sih tidak ada, hanya di atas kertas. Tapi ia tidak menjadi beban keuangan PTDI,” katanya.
Tangan dingin Budi Santoso perlahan menuai hasil. Pada 2012 lalu,  perusahaan membukukan laba bersih sekitar Rp40 miliar, dengan pendapatan Rp2,68 triliun. Pendapatan terbesar disumbang oleh pembuatan pesawat sebesar Rp2,3 triliun, manufaktur komponen Rp236 miliar, jasa teknisi dan alutsista Rp65 miliar, dan dari perawatan pesawat Rp104 miliar.
Tiga  langkah
Beresnya utang masa lalu itu, kata Budi Santoso, menjadi titik balik PTDI. Pada akhir 2011, mendapatkan kucuran dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp2,06 triliun. Direksi tidak menyia-nyiakan dana itu, dan langsung memakainya untuk modernisasi mesin, hanggar dan sumber daya manusia.
Direktur Niaga dan Restrukturisasi, Budiman Saleh menjelaskan PTDI telah mengalokasikan Rp270 miliar membeli berbagai mesin produksi serta membenahi dan membangun hanggar baru senilai Rp140 miliar. Nantinya, PTDI akan mempunyai dua hanggar perakitan pesawat.
Satu hanggar baru tersebut baru akan beroperasi pada Semester I 2014, dan mampu merakit pesawat besar seperti CN 295. (Lihat Bagian 3: Agar di Langit Kita Jaya)
Tiga langkah restrukturisasi pun  dilakukan. Pertama, pada fase darurat, selama 2011-2012, dibenahi kondisi internal. Kedua, adalah tahap stabilisasi pada 2012-2013. Pada fase ini perusahaan melakukan berbagai investasi dan revitalisasi. Terakhir, diharapkan pada 2015 ke atas, PTDI diharapkan lepas dari ketergantungan pada pemerintah.
“Saat ini kami sedang dalam tahap fase kedua. Kita lakukan pencarian pendanaan untuk permodalan, pemetaan pasar dan persiapan produk baru seperti N 219,” kata Budiman.
Saat ini, untuk bergerak perusahaan memang tergantung pada rezeki dari pemerintah. Misalnya, PTDI meraup kontrak hingga Rp7 triliun hingga tiga tahun mendatang, sebagian besar dari Kementerian Pertahanan. Tapi setelah itu, PTDI diminta untuk mandiri.
“Kami perlu hidup. Bisnis pesawat terbang bukan sesuatu yang instan,” kata Budi Santoso.
Bantuan itu, kata Budi, penting. Ia seperti efek bola salju. Konsumen melihat perusahaan mulai bangkit, dan tanpa diundang, mereka datang ke pabrik dan melakukan kerjasama. “Lima tahun lalu, saat saya pertama kali menjadi Direktur Utama, hal ini tidak pernah saya bayangkan,” katanya.
Menggandeng Airbus
Salah satu kunci keberhasilan PTDI adalah belajar dari kesalahan masa lalu. Sewaktu masih bernama IPTN, perusahaan ini “jor-joran” mengembangkan berbagai macam pernik pesawat walaupun tidak ekonomis.  Insinyur mereka waktu itu sangat menguasai teknologi, tapi tidak mengerti ilmu marketing.
“Ternyata, mengerti teknologi saja tidak cukup. Bagian lain adalah menguasai pasar, kami tidak pernah pelajari hal tersebut,” kata Budi.
Jalan lain mendongkrak kembali perusahaan yang  “pingsan” sejak krisis 1997 lalu adalah usaha  menggandeng industri penerbangan lain yang telah berkibar, yaitu Airbus dan Boeing. “Dua-duanya kami jajaki,” ujar Budi.
Namun, yang terdekat adalah EADS, perusahaan yang termasuk grupnya Airbus. Secara sejarah, PTDI lebih dekat, meskipun dulu mereka pernah punya hubungan dengan Boeing.
Cara ini, kata Budi, lebih efektif. Soalnya, membuat pasar baru membutuhkan waktu hingga puluhan tahun. PTDI tidak mungkin menanti selama itu, bisa keburu mati. Cara PTDI mirip seperti yang dilakukan Lenovo dan IBM. “Lenovo dahulu menggunakan merek IBM hingga orang-orang sadar IBM itu Lenovo. Sekarang Lenovo tidak memakai nama IBM namun tetap laku,” katanya.
Cara ini mulai membuahkan hasil. PTDI kini menerapkan standar administrasi hingga membuat pesawat, yang sesuai standar Airbus, baik EADS Airbus dan Airbus Military, membantu dari teknik hingga non teknik. Per tahun, PTDI mendapatkan kontrak Rp180-200 miliar. Dengan bekal inilah, PTDI bertekad membuat pesawat asli Indonesia.
Selain dengan EADS, PTDI juga menjalin kerjasama dengan Eurocopter Family yang juga dibawah EADS untuk membuat body helikopter MK II, yaitu tailboom dan fuselage senilai Rp5 miliar. Selain itu PTDI juga menjadi subkontrak CTRM dan Korean Air senilai Rp10 miliar.
Berbagai pesanan inilah yang membuat para karyawan PTDI bergairah. Saat ini, pabrik PTDI berjalan dua shift. Pada shift malam mereka akan mengejar produksi jika terjadi masalah di dua shift sebelumnya. Saking penuhnya order, PTDI tidak berani mengambil pekerjaan lagi. Kapasitas produksi perusahan itu sudah penuh.
“Maka, kalau ada yang bilang kami menganggur, itu salah. Dengan modernisasi saat ini, PTDI 2-3 kali lebih produktif dari yang lama,” katanya.
Jet tempur
Mesin-mesin buatan Jerman, Italia dan Taiwan terbaru sejak 2012 lalu telah hadir di pabrik PTDI. Mesin CNC (Computerized Numerical Control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB, dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P membuat semangat baru bagi para teknisi. Urusan produksi menjadi lebih cepat.
Meski begitu, kapasitasnya belum setara dengan pabrik besar seperti Airbus. Untuk membuat sebuah pesawat dari nol hingga bisa terbang PTDI membutuhkan waktu 8-12 bulan. Sementara Airbus dan Boeing, rata-rata hanya butuh dua pekan. Dengan mesin baru, waktu produksi diharapkan bisa diringkas menjadi dua bulan.
Bermodal mesin itu pula, perusahaan yakin dapat meraup laba lebih besar. Pada 2013 ini PTDI menargetkan pendapatan sebesar Rp3 triliun,  dengan target laba bersih Rp60 miliar. Pada 2012 laba tercatat Rp40 miliar. Perusahaan kini mulai percaya diri, misalnya meminjam dana ke Bank sebagai modal kerja.
Secara potensial, PTDI masih bisa mengembangkan CN-235 menjadi CN-234 Next Generation.  CN-235 adalah proyek bersama antara PTDI dengan CASA. PTDI diberikan kebebasan oleh CASA untuk memberikan berbagai inovasi pada CN-235. Salah satunya menambahkan wing tips untuk menambah kestabilan pesawat.
Selain itu, C-212 versi improvement, harganya lebih murah, dan kapasitasnya juga bertambah. “Kami juga menargetkan pusat perawatan PTDI dapat merawat Airbus A320 di Indonesia,” ujar Budi.
Agar makin tokcer di masa depan, perusahaan itu akan merekrut generasi muda. Penerimaan besar-besaran insinyur PTDI terjadi pada 1982-1986. Setelah itu, tidak ada lagi. Kini sekitar 45 persen sumber daya ahli di perusahaan itu, khususnya para engineer, telah memasuki masa pensiun.
Kini, pegawai baru direkrut secara bertahap. “Yang pensiun, akan kami pertahankan 1-2 orang sebagai pelatih engineer baru. Cara ini kami gunakan mengatasi lost generation di PTDI,” kata Budiman.
Sebagai bahan latihan bagi para insinyur muda, PTDI menyiapkan N 219. Pesawat berkapasitas 19 orang ini akan dijadikan model agar para insiyur muda mengetahui satu siklus pembuatan pesawat.
Dari produk N 219 inilah, tenaga ahli muda itu dapat mengembangkan beragam jenis pesawat. Bukan tak mungkin suatu saat mereka menciptakan pesawat jet komersial seperti N2130 yang mati suri. Atau pesawat tempur IF-X/K-FX, kolaborasi PTDI dengan Korea Selatan.


Proyek terakhir itu kini memang tidak jelas nasibnya. Sebab, Korea Selatan memotong anggaran riset, serta pemerintah Turki mengundurkan diri dari program itu. (np)

Pesawat UAV Produk dalam negeri

Published on: Wednesday, April 24, 2013 // , , ,

UAV atau Unmanned Aero Vehicle adalah pesawat intai yang pengoprasianya dari jarak jauh atau pesawat tanpa awak, fungsi dari pesawat ini untuk mengetahui keadaan atau kondisi yang sulit dijangkau atau berada di daerah musuh, tetapi secara umum pesawat ini memiliki banyak fungsi tidak hanya berpatokan pada bidang militer. Di indonesia pesawat jenis ini bisa juga dipakai untuk pemetaan, pemantauan lalu lintas, pengukuran suhu, penanggulangan bencana, bahkan bisa juga terlibat dalam proses hujan buatan.

Di bidang militer pesawat UAV sangat diperlukan untuk operasi penyusupan atau pengintaian di daerah musuh, karna dengan desainya pesawat ini tidak bisa terdeteksi radar.
Berita yang jadi sorotan adalah rencana pembelian pesawat UAV produk israel oleh TNI, yang oleh banyak pihak diprotes karna berbagai macam alasan seperti tidak adanya hubungan diplomasi antar kedua negara, sampai pelanggaran HAM terhadap palestina.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa TNI tidak berpaling ke produk dalam negeri ?
Di indonesia sendiri penelitian dan pengembangan pesawat UAV sudah cukup lama dilakukan, yakni dari tahun 2000 yang dirintis pertama kali oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Salah satu perusahaan yang ikut digandeng BPPT adalah PT.Aviator Teknologi Indonesia (ATI). Bahkan di tahun 2005 sudah berhasil membuat satu prototype yang di beri nama Smart Eagle I.

Di tahun berikutnya BPPT melalui programnya Pesawat Udara Nir-Awak (PUNA) telah berhasil membuat beberapa prototype dengan berbagai macam varian seperti Wulung, Gagak, Pelatuk, Alap-alap, dan Slipi. Dan satu lagi yaitu Pesawat intai Sriti, Pesawat ini rencananya akan digunakan kementerian kelautan dan perikanan untuk pengawasan laut indonesia. Pesawat Sriti berbahan bakar methanol seperti yang dipakai di pesawat aeromodelling. Jarak pengendalian maksimum Srinti adalah 45 km.

Untuk produk terbarunya BPPT telah membuat Smart Eagle II yang merupakan pengembangan dari Smart Eagle I, Berbeda dengan pendahulunya,Smart Eagle II jauh lebih baik performanya bahkan dengan PUNA sekalipun. Jarak jangkau operasionalnya mencapai 150Km dari Base-station. Begitupula desain, sistem komunikasi dan kendali, mobilitas, payload, operational-cost serta sangat mudah pengoperasiannya.

Spesifikasi UAV Smart Eagle II
UAV Smart eagle II
  • Panjang : 3,6 meter
  • Rentang sayap : 4,8 meter
  • Tinggi : 1 meter
  • Bobot :
    bobot kosong 65Kg dan bobot maksimum tinggal landas (maximum take-off weight) 100Kg, dengan mengusung beban muatan seberat 20Kg
  • SE II mampu terbang setinggi 30Km dengan kecepatan jelajah normal (cruise speed) 120Km/jam. Namun dalam kondisi darurat kecepatan terbang SE II dapat digenjot hingga 150Km/jam agar bisa menjangkau lokasi sejauh 300 kilometer
Spesifikasi UAV Wulung
UAV wulung
  • Bentangan sayap: 6,36 meter
  • Panjang : 4,32 meter
  • Tinggi : 1,32 meter
  • Berat Take off : 120 kg
  • cocok untuk misi yang hanya bisa maksimal bila dipantau dari high altitude. Antara lain, pemotretan udara pada area yang sangat luas, pengukuran karakteristik atmosfer, dan pemantauan kebocoran listrik pada kabel listrik tegangan tinggi
Spesifikasi UAV Gagak
UAV gagak
  • Bentangan sayap: 6,93 meter
  • Panjang : 4,38 meter
  • Tinggi : 1,12 meter
  • Berat Take off : 120 kg
  • cocok untuk misi pemotretan dari udara pada jangkauan luas
Spesifikasi UAV Pelatuk
UAV pelatuk
  • Bentang Sayap: 6,92 meter
  • Panjang Badan: 4,38 meter
  • Tinggi : 1,21 meter
  • Berat Max : 120 kg
  • Mesin : 24 Hp (single engine)
  • Material : Komposit/fiberglass
  • Altitude : 7000 ft
  • Payload : 20 kg
  • cocok untuk misi pemotretan udara pada area kecil, pengintaian jarak dekat suatu sasaran, pemantauan hutan, pemantauan laut dan pantai

PT DI Siap Kirim 10 Helikopter & 7 Pesawat Pesanan TNI



Pesawat CN-235 Patmar untuk TNI AL (photo : Fahriza Alif)

Bandung - PT Dirgantara Indonesia (DI) menyelesaikan produksi belasan pesawat dan helikopter pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI untuk kebutuhan alutsista tiga satuan TNI. Jumlah transportasi udara yang diracik PT DI terdiri dari 10 helikopter dan 7 pesawat.

Juru Bicara PT DI Sonny S Ibrahim mengatakan pesanan yang akan diserahkan pada 2013 ini masing-masing tiga unit pesawat CN 295 untuk TNI AU, tiga unit pesawat CN 235 PATMAR untuk TNI AL, satu unit pesawat jenis NC 212 untuk TNI AU, dan satu unit helikopter jenis Super Puma NAS 332 untuk TNI AU.

"Untuk 2013 sudah enam unit helikopter Bell 412 EP diserahkan kepada TNI AD. Satu lagi di tahun ini segera menyusul," jelas Sonny kepada wartawan di kantor PT DI, Bandung, Rabu (24/4/2013).

Helikopter Bell 412 EP untuk TNI AD (photo : Detik)

Sonny menambahkan, alat transportasi udara itu diproduksi sejak 2011-2012. Ia menegaskan, seluruh pesawat dan helikoter tersebut dilengkapi intial spare part.

"Semua pesawat yang diserahkan Kemhan untuk TNI, PT DI menjamin kelaikan terbangnya sesuai dengan persyaratan pengguna dan regulasi pemerintah untuk pesawat militer. Intinya, PT DI siap mendukung alutsista dalam negeri," tutur Sonny.

Pada 2014-2015, sambung Sonny, PT DI sudah siap menyelesaikan pesawat dan helikopter pesanan Kemhan.

Rencananya guna memenuhi kebutuhan TNI AU, 2014 diserahkan dua unit CN 295, dan dua unit pesawat sejenis diserahkan 2015. Di 2014 satu unit Super Puma NAS 332 diserahkan ke TNI AU. Sementara enam unit helikopter Cougar EC 725 dipesan TNI AU, PT DI akan menyerahkan dua unit pada 2014 dan empat unit pada 2015 mendatang.

(Detik)

F-16 Fighting Falcon

Published on: // , ,


F-16 Fighting Falcon (Foto 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 3). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 4). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

F-16 Fighting Falcon (Foto 5). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Galeri Wallpaper Foto Jet Tempur F-16 Fighting Falcon :
F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. Pesawat ini sangat populer di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.

F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.

Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995. Pada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) dan F-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.

Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka. Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.

Kolonel John Boyd mengembangkan teori tentang perawatan energi pada pertempuran pesawat tempur, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25yang saat itu kemampuannya terlalu dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.

Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).

Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini diubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.

Spesifikasi Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon

Karakteristik Umum :
  • Kru: 1
  • Panjang: 49 ft 5 in
  • Lebar sayap: 32 ft 8 in
  • Tinggi: 16 ft
  • Luas sayap: 300 ft²
  • Airfoil: NACA 64A204 root and tip
  • Bobot kosong: 18,238 lb
  • Bobot terisi: 26,463 lb
  • Bobot maksimum lepas landas: 42,300 lb
  • Mesin: 1 unit Pratt & Whitney F100-PW-220 afterburning turbofan
  • Alternate powerplant: 1× General Electric F110-GE-100 afterburning turbofan
Kinerja :
  • Laju maksimum: >Mach 2 (1,320 mph, 2,124 km/h) at altitude
  • Radius tempur: 340 mi on a hi-lo-hi mission with six 1,000 lb (450 kg) bombs
  • Jarak jangkau ferri: >3,200 mi
  • Batas tertinggi servis: >55,000 ft
  • Laju panjat: 50,000 ft/min
  • Beban sayap: 88.2 lb/ft²
  • Dorongan/berat: F100 0.898; F110 1.095
Persenjataan :
  • Senjata api: 1 unit M61 Vulcan gatling gun kaliber 20 mm (0.787 in), 511 putaran
  • Roket: 2¾ in (70 mm) CRV7
  • Rudal: Air-to-air missiles: 6× AIM-9 Sidewinder, 6× AIM-120 AMRAAM, 6× Python-4. Air-to-ground missiles: 6× AGM-65 Maverick, 4× AGM-88 HARM, 4× AGM-119 Penguin
  • Bom: 2× CBU-87 cluster, 2× CBU-89 gator mine, 2× CBU-97, 4× GBU-10 Paveway, 6× GBU-12 Paveway II, 6× Paveway-series laser-guided bombs, 4× JDAM, 4× Mk 80 series, B61 nuclear bomb
wikipedia.org

Video Jet Tempur F-16 Fighting Falcon :

SUKU CADANG CN 295 AKAN DISERAHKAN TAHUN 2013

Published on: Tuesday, April 23, 2013 // , ,



CN 295 TNI AU   
Jakarta • Suku cadang pesawat CN 295 akan diserahkan PT Dirgantara Indonesia pada tahun 2013 ke TNI AU. Saat ini, dua pesawat CN 295 yang diserahterimakan awal tahun 2012 lalu terbang tanpa suku cadang.

"Tahun ini, PT DI akan kirim suku cadangnya," kata Kepala Humas PT Dirgantara Indonesia (DI), Sonny S Ibrahim, Sabtu (20/4/2013).

Pengadaan CN 295 adalah salah satu program andalan Kementerian Pertahanan untuk meningkatkan industri pertahanan dalam negeri. Namun, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Sisriadi mengakui, pembayaran hingga kini belum dilakukan. "Soalnya kontraknya belum selesai. Tahun ini pembayaran akan kami lakukan," kata Sisriadi.

Ketiadaan suku cadang ini membuat pilot-pilot TNI AU harus menerbangkan pesawat dalam kondisi tanpa suku cadang. Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, mengatakan, saat ini, hanya satu pesawat yang beroperasi sementara, yang satu dalam perawatan. Nam, menurut Sonny, pesawat sudah diserahterimakan dan itu berarti pesawat sudah memenuhi berbagai persyaratan administrasi, fungsi, dan memenuhi regulasi terbang militer Indonesia.

Pesawat sudah diterbangkan ke Langkawi Malaysia pada bulan Maret 2013 lalu untuk ikut static show di acara LIMA 2013. Saat ini pesawat sedang disiapkan untuk terbang road show ke negara-negara Asean pada bulan depan. "Saya tegaskan, pesawat-pesawat tersebut service-able," kata Sonny.

Sonny juga menyatakan, seperti sebelumnya PT DI akan tetap berkomitmen mengirimkan pesawat CN 295 sesuai jadwal. Tahun 2013 ini direncanakan ada 3 atau 4 unit CN 295 yang akan dikirimkan. PT DI juga berterima kasih pada Kementerian Pertahanan yang akan mengajak CN 295 dalam road show ke beberapa negara ASEAN pada awal bulan Mei mendatang.

Bundling Israel Paves Way for Pentagon Sale of Strike Weapons to Saudi-Arabia, UAE

Published on: Monday, April 22, 2013 // , , , ,

osprey_mountains
A MV-22 Osprey from Marine Medium Tiltrotor Squadron 261, based out of Marine Corps Air Station New River, N.C., makes one of many landings, June 25, in training area Dodo at the Mountain Warfare Training Center in Bridgeport, Calif. Photo: Lance Cpl. Michael Nerl, USMC
The US is preparing a multi-billion arms deal that will include the sales of advanced fighter planes, air-to-ground strike weapons and special mission aircraft to Israel, Saudi Arabia and the UAE. The total value of these packages is expected to exceed $10 billion.
As part of these sales the United States has agreed to deploy standoff precision attack weapons to Saudi Arabia and the UAE. Although the exact type of anti-radiation or standoff weapon has not been detailed by the Pentagon, it is believed that those weapons are the AGM-154C Joint Stand-Off Weapon (JSOW-C) built by Raytheon,
to be carried by Boeing F-15SA and Lockheed Martin F-16 Block 60s, and Advanced Anti Radiation Guided Missile (AARGM – AGM-88E) destined for the Israeli F-16s and F-15s.
The sale of advanced strike weapons has always been a sour issue for US exports, as such plans traditionally encountered opposition in Congress. Last month the US lost an opportunity in South Korea, after Seoul opted to buy a German weapon after failing to get approval for buying the US JASSM. Sales of strike weapons to Middle Eastern air forces met similar opposition, strengthened by Israeli supporters on the Hill.
This time the arms packages are bundled in a way that could defuse potential opposition often raised by plans to transfer offensive weapons to Middle Eastern countries. “A key part of the agreement is that we believe, and the Israelis believe, that [providing] these capabilities in no way diminishes Israel’s qualitative military edge, but are consistent with [the need to] commonly address threats in the region.” Pentagon official said. The United States will jointly train with the Emirati and Saudi pilots, as has been the case for other sales of military aircraft, he noted, adding that “There will be enhanced end-use monitoring consistent with what we provide with sensitive technology to our other allies and partners around the region… and there will be consultations prior to any of the weapons’ deployment.”
Defense Secretary Chuck Hagel is expected to discuss and finalize the agreements on these arms sales this week, during his visits in Israel, Jordan, and Saudi Arabia. According to senior Pentagon sources, the secretary’s a six-day trip will includes meetings with counterparts and officials in Israel, Jordan, Saudi Arabia, Egypt and the United Arab Emirates. Sources said Hagel plans to discuss the ‘historic arms deal’ that involves Israel, Saudi Arabia and the UAE, along with the situations in Syria, Iran, and the Sinai Peninsula.
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!