Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

Informasi tentang Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

http://ictmiliter.blogspot.com

SATELIT LAPAN A2 ASLI BUATAN ANAK NEGERI

Published on: Tuesday, April 23, 2013 // , ,



Ini adalah hasil pencitraan dari satelit Lapan A1 yang bakal diganti oleh Lapan A2 dan Lapan A3.

REPUBLIKA.CO.ID, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) kembali akan meluncurkan satelit observasi bumi. Satelit Lapan Orari (A2) dirancang dan dibuat sepenuhnya oleh para ahli Indonesia. "Waktu pembuatannya kurang lebih dua tahun. Satelit ini sepenuhnya dirancang dan dibuat para engineer Lapan. Kami dibimbing jarak jauh oleh engineer senior dari Technishe Universitaet Berlin, Jerman," kata Kepala Deputi Teknologi Kedirgantaraan LAPAN, Soewarto Hardhienata.

Satelit ini akan diluncurkan pada semester dua 2012 di Sriharikota, India. Rencananya satelit akan diangkut ke India pada Juni 2012. Peluncurannya menggunakan roket peluncur satelit PSLV (Polar Satellite Launch Vehicle) milik India.

Satelit ini merupakan pengembangan generasi sebelumnya (A1). Satelit A2 membawa misi mempermudah mitigasi bencana dengan bekerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari), melakukan pengamatan muka bumi Indonesia, dan mengamati arus kapa,l terutama yang berukuran besar di perairan negara. Untuk mendukung misinya satelit ini dilengkapi video RGB Camera Surveilance, Sistem Deteksi Kapal laut Automatic Identifiction System (AIS), dan Alat komunikasi Orari.

Satelit A2 yang tergolong mikro ini, akan mengorbit secara ekuatorial. yaitu dari arah barat ke timur, sekitar lintang enam sampai delapan. Satelit ini akan melewati Indonesia setiap 97 menit atau 14 kali sehari. Rencananya satelit ini akan berfungsi sampai sepuluh tahun ke depan.

LIMA TAHUN LAGI, RI MANDIRI SATELIT

Published on: // , ,


Setelah A2, LAPAN siap meluncurkan satelit A3 dan A4.

Model Satelit A2 buatan LAPAN
Model Satelit A2 buatan LAPAN
Setelah mengembangkan satelit A2 yang seluruh tahapnya dilakukan di dalam negeri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mempersiapkan pembangunan satelit A3 dan satelit A4. Upaya ini merupakan langkah LAPAN dalam mewujudkan pembangunan satelit yang mandiri. Ketua Pusat Satelit LAPAN, Suhermanto, menyebutkan, satelit A2 merupakan progres lanjut dari Satelit A1-Tubsat. Sebelumnya, A1-Tubsat merupakan satelit yang dikembangkan melalui tahap transfer pengetahuan dari luar negeri.

"Tubsat semua dilakukan di luar negeri (Berlin), dan kami mengikuti konsep mereka. Nah, sekarang A2 kami bawa seluruhnya di dalam negeri. Pengujian, perancangan, operasi, dilakukan di dalam negeri," kata Suhermanto di sela paparan satelit A2 di Pusat Satelit LAPAN, Bogor, Jumat 31 Agustus 2012.

Satelit A3 yang akan menyusul diluncurkan pada 2014 direncanakan menggunakan perangkat lunak pendukung satelit yang dilakukan di dalam negeri. Untuk memenuhi ambisi itu, saat ini LAPAN sudah mulai mengawali dengan mengumpulkan komponen dan bahan pendukung pembuatan satelit A3 dan A4.

Suhermanto mengatakan, komponen satelit A2 hampir seluruhnya berasal dari luar negeri.

Sementara itu, Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit, Robertus Haru Triharjanto, mengatakan, satelit A3 akan hadir dengan muatan kamera observasi bumi dengan kamera 4 band multispectral scanning yang berfungsi untuk memetakan klasifikasi tutupan lahan dan pemantauan lingkungan.

Kamera itu beresolusi 18 m dengan cakupan 120 km dan kamera resolusi 6 m dengan cakupan 12 km x 12 km. Satelit ini juga akan mengorbit 650 km.

"Jadi, bisa mengenali jenis dan umur tanaman yang disensor," ujarnya. Sama seperti A2, Satelit A3 yang berdimensi 50x50x70 cm akan menggunakan sensor AIS dan APRS.

Jika LAPAN sukses meluncurkan Satelit A3, pihak LAPAN akan segera melanjutkan pembangunan satelit khusus untuk operasional pada 2017 dengan menghadirkan Satelit A4.

Satelit ini disebut akan diaplikasikan khusus untuk kehutanan dan perikanan. Khusus untuk pengembangan satelit operasional, LAPAN memberikan sinyal akan menggandeng pihak luar negeri.

"Kami sedang jajaki kerja sama dengan Hokkaido University, Jepang," kata Suhermanto.

Ia menambahkan, dengan suksesnya peluncuran Satelit A2, LAPAN sudah bersiap untuk tahap penguasaan dan pengembangan satelit. Satelit A2 dan A3 masing-masing diprediksi beoperasi selama tiga tahun. (art)

 LAPAN Kejar Pembangunan Satelit, Ini Alasannya

LAPAN mengakui pembangunan satelit di Indonesia terbilang lambat.

ilustrasi peluncuran satelit
ilustrasi peluncuran satelit
Upaya pembangunan satelit dirintis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sejak meluncurkan Satelit A1-Tubsat pada awal tahun 2007 lalu. Pertengahan tahun depan, LAPAN akan segera meluncurkan satelit penerus A1, yakni satelit A2 di India.

Lalu dalam jangka empat tahun setelah meluncurkan satelit A2, LAPAN akan berencana akan meluncurkan dua satelit, satu satelit eksperimental dan satu satelit operasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mewujudkan pembangunan satelit yang mandiri.

Ketua Pusat Satelit LAPAN, Suhermanto mengatakan, pola pembangunan satelit yang dijalani oleh Indonesia memang tergolong lambat. Hal ini diakibatkan dukungan industri teknologi pendukung satelit di Indonesia sangat kurang.

"Biayanya sangat mahal, perlu dukungan industri elektronika, logam yang bagus," kata Suhermanto di kantor Pusat Satelit LAPAN di Bogor, Jumat 31 Agustus 2012.

Ia membandingkan dengan Korea Selatan yang cepat dalam pembangunan satelit. Sebab, dukungan industri elektronikanya bagus.

Korea Selatan, lanjutnya, dalam waktu dekat, langsung dapat mengaplikasikan pengetahuan pembangunan satelit dari luar negeri. Bahkan Korea Selatan kemudian dapat meningkatkan kemampuan membuat roket sebagai wahana peluncur.

Selain problem industri pendukung, di Indoensia pembangunan satelit tekendala oleh regulasi frekuensi, baik itu di dalam negeri maupun frekuensi di luar negeri. Meski terbilang pembangunan satelit Indonesia lambat, tapi Suhermanto mengatakan pola yang dijalankan cukup sistematis dan mendapat pengakuan dari negara lain.

"Pembangunan satelit di sini dinilai baik. Mozambik, Malaysia dan Thailand mengakui pengalaman kita dalam pembangunan satelit," ujarnya.

Ia mengatakan pola pembangunan satelit Indonesia mempunyai visi penguasaan pembuatan satelit mandiri secara bertahap. Awalnya pembangunan satelit dilakukan dengan transfer pengetahun teknologi dari negara luar, kemudian berusaha membuat perangkat lunak maupun keras dari dalam negeri dan oleh para ahli dari Indonesia. "Setelah transfer teknologi, sistem yang ada di dalam satelit harus kita kuasai," ujarnya.

Sistem tesebut di antaranya adalah reaction wheel, star sensor (sebuah navigasi sikap satelit yang dapat menggerakkan kamera), kamera, PCDH (Payload Control Data Handling), transmitter, codingdan encoding dalam pengiriman data.

Dengan sering meluncurkan satelit ke orbit juga berarti Indonesia dapat mengisi slot di luar angkasa. Menurutnya, sangat rugi jika slot di luar angkasa tidak diisi. Sebab, nantinya slot akan dipenuhi oleh satelit dari negara-negara besar.

"Di slot orbit kan bayar, memang sudah diatur slotnya. Tapi kalau tidak dipakai, bisa hilang slot itu, kita harus rebut slot orbit," katanya. (eh) 


 Luncur Tahun Depan, Ini Fungsi Satelit A2 LAPAN

LAPAN akan meluncurkan satelit ini di India.

Satelit Tubsat Lapan pernah mengambil citra Kawah Merapi
Satelit Tubsat Lapan pernah mengambil citra Kawah Merapi
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) siap meluncurkan satelit A2. Kelak, satelit ini akan menjalankan misi pengamatan bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio amatir pada pertengahan tahun depan.

Satelit ini merupakan suksesor satelit LAPAN sebelumnya, Satelit A1 Tubsat. Selain memiliki kemampuan memantau permukaan bumi melaluivideo survailence seperti dalam Satelit A1 Tubsat, dalam versi A2 ini ditambahkan sensor yang lebih, canggih yaitu receiver Automatic Identification System (AIS), muatan radio amatir melalui Automatic Posisition Reporting system (APRS) dan kamera video analog dan digital yang lebih baik.

Sensor Automatic Identification System (AIS) berfungsi untuk mendeteksi kapal laut yang melewati perairan Indonesia. Teknologi ini bahkan juga mampu mendeteksi potensi pencurian ikan di perairan Indonesia.

"Setiap kapal legal dilengkapi dengan transmitter, jadi terlacak posisinya," ujar Robertus Heru Triharjanto, Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit, di Pusat Satelit LAPAN, Rancabungur, Bogor, Jumat 31 Agustus 2012. Untuk saat ini, semua transmitter kapal laut akan di-upgrade untuk menyesuaikan dengan sensor AIS.

Sementara sensor Automatic Posisition Reporting system (APRS) berfungsi menyediakan fasilitas komunikasi untuk bantuan mitigasi bencana melalui komunikasi teks dan suara via radio amatir.

"Misalnya terjadi bencana, dan komunikasi mati, data dari satelit ini memberikan bantuan komunikasi alternatif melalui radio amatir," tambahnya.

Dua kamera video yang dipasang dalam satelit ini mempunyai resolusi tingkat tinggi 6 m dengan jangkuan masing-masing 12 Km x 12 Km dan 3,5 Km x 3,5 Km. Satelit berdimensi kubus dengan ukuran 50x47x38 cm dan berat 78 kg ini akan diluncurkan melalui roket PSLV-C23 milik India pada pertengahan tahun depan.

"Dalam peluncuran nanti, satelit kita hanya piggy back (muatan roket) saja. Jadi kita menunggu muatan utama roket tersebut," kata Suhermanto, Kepala Pusat Satelit LAPAN.

Seluruh proses pembangunan satelit ini yang meliputi uji coba, desain, perancangan dan operasi dilakukan dari Indonesia. "Begitu diluncurkan kita akan pantau melalui tiga stasiun satelit LAPAN di Serpong, Bogor dan Biak (Papua)," katanya.

Satelit ini akan mengorbit pada ketinggian 650 Km dengan pola equatorial yang menyusuri wilayah RI sebanyak 14 kali, lebih sering jika orbit satelit polarial. "Jadi ini akan lebih optimal memantau wilayah perairan RI, kita juga lakukan optimalisasi kendali satelit agar lebih presisi," ucap Suhermanto.

Suhermanto juga menambahkan, untuk proses peluncuran sampai satelit lepas dari roket sudah diasuransikan. (umi)

LAPAN YAKIN RI LUNCURKAN SATELIT SECARA MANDIRI

Published on: // , , ,



Eksplorasi antariksa negara-negara maju sudah mencapai Planet Mars dan sedang menjajaki untuk mengeksplorasi asteroid dalam waktu beberapa tahun ke depan. Tak mau ketinggalan terlalu jauh, Indonesia rupanya kini mulai ikut mengembangkan teknologi untuk mengeksplorasi antariksa. 

Langkah awalnya adalah dengan meluncurkan satelit secara mandiri. Target ini diharapkan bisa dicapai dalam kurun waktu belasan tahun mendatang.

"Tahun 2025, kita sudah akan bisa meluncurkan satelit sendiri. Setelah itu kita menuju program ke Bulan," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Bambang S. Tedja, Selasa 27 November 2012.

Dia menerangkan program eksplorasi bulan akan menjadi patokan untuk eksplorasi tingkat lanjut. Ia yakin pada 2025, seiring dengan terwujudnya bandara antariksa nasional, Indonesia dapat meluncurkan satelit yang bakal mengorbit di ketinggian 650 kilometer.

"Kita bisa lah pada waktunya nanti. Apalagi tahun depan kami akan meluncurkan roket untuk ujicoba," ujar Bambang.

Keyakinan tersebut didasarkan pada kesiapan LAPAN meluncurkan roket Sonda RX-550 tahun depan. Itu merupakan roket pendorong peluncuran satelit berukuran 6 meter, berdiameter 550 milimeter, dan berat 3 ton.

"Roket itu mampu mencapai ketinggian lebih dari 100 km, dan jangkauannya mencapai 300 km," katanya.

LAPAN telah melakukan uji statis roket RX-550 pada 2011 dan 2012. Uji statis merupakan pengujian di darat untuk mengetahui kinerja dan daya dorong roket saat tinggal landas. Pada 2013 dan 2014 RX-550 akan menjalani uji terbang masing-masing satu tingkat dan dua tingkat.

Meski optimistis pada 2025 nanti Indonesia akan mampu meluncurkan satelit secara mandiri, Bambang mengakui Indonesia harus mengatasi tantangan soal penempatan slot satelit di antariksa. "Slot itu harus diiisi. Ini saja masih menjadi tantangan," katanya.

Roket RX 550 dan Rudal Strategis

Published on: Monday, April 22, 2013 // , ,



Roket RX 550 LAPAN Negara tetangga boleh saja banyak. Mereka bisa membeli mesin perang canggih dengan uang yang berlimpah. Yang repotnya adalah jika negara tetangga itu mulai bertingkah. Mereka mulai menyusun rencana untuk memperluas wilayah, dengan cara mencaplok perbatasan negara yang bersengketa. Apakah itu mungkin ?. Sangat mungkin, jika negara Indonesia lemah, sehingga gampang ditekan dengan kekuatan militer. Berbicara tentang uang tidak ada batasnya untuk mereka. Sementara Indonesia harus berpikir 10 kali, untuk membeli mesin perang yang canggih. 

Sadar akan situasi ini, Indonesia mulai mencoba mandiri dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Salah satunya adalah sistem pertahanan missile/ peluru kendali jarak menengah dan jauh. Senjata ini akan membuat negara lain yang ingin mengganggu Indonesia. RX 550 LAPAN Perjalanan pembuatan Roket dan Missile Indonesia masih panjang dan berliku, jika dibandingkan Jepang, India, Iran dan China. Namun para ahli 

LAPAN telah berjanji akan membuat roket Indonesia yang bisa mengarungi ruang angkasa, serta peluru kendali jarak jauh. Coba bayangkan kecanggihan peluru kendali China. Roket mereka berhasil menembak jatuh satelit yang berada di luar angkasa. Jika China mau, mereka bisa menembak semua satelit yang memata-matai negara mereka. Bagaimana dengan Indonesia ?. 

LAPAN memiliki rencana ambisius dengan meluncurkan satelit buatan Indonesia ke ruang angkasa pada tahun 2014. Untuk itu, LAPAN bekerjasama dengan pabrik baja Krakatau Steel, membuat diameter roket lebih besar dari RX 420. Krakatau Steel berhasil mengerjakannya dan terciptalah roket RX 550 (kaliber 550mm). RX 550 merupakan komponen tingkat pertama dan kedua dari Roket Pengorbit Satelit yang memiliki panjang 8-10 meter. 

Saat ini roket RX 550 terus menjalani tahap revisi desain. Lapan menargetkan, RX 550 mampu meluncur hingga 500 km dan rampung pada akhir tahun 2012. Selain menggarap RX 550, LAPAN dan lembaga lembaga strategis lainnya juga sedang merancang roket kendali atau cruisser. Salah satunya diberi nama Roket Kendali Nasional atau RKN 200. RKN 200 akan menjadi roket tingkat empat yang berfungsi sebagai roket pengorbit satelit. RKN 200 sedang dirancang untuk memiliki tujuh kali kecepatan suara atau 7 Mach. 

HSFTB Pembuatan roket kendali memang rumit, karena Indonesia belum menguasai guide missile-nya. Sejak tahun 2010 guide missile tersebut dipelajari dengan membuat pesawat tanpa awak High Speed Flying Test Bed, HSFTB. HSFTB merupakan wahana terbang turbojet, untuk menguji sistem kendali dengan memeriksa beragam parameter dinamika terbang yang tepat dan akurat. Selain untuk roket pengorbit satelit, HSFTB berguna sebagai tahapan membuat rudal nasional dan UAV tingkat advance. Wahana terbang HSTFB menganalisa anomali trayektori, menguji signifikansi perbaikan peralatan, serta menguji strategi terbang agar mencapai sasaran.

   
HSFTB 

Informasi dari pesawat HSFTB ditransfer ke RKN 200 untuk merevisi kemampuan flight control system (rate gyro, akselero dan GPS), sistem tracking rocket jarak jauh (Multi Gain IMU), serta teknologi UAV (komunikasi data). Pesawat yang dijadikan acuan dalam proses desain HSFTB LAPAN adalah Long range missile: Storm Shadow/SCALP EG buatan Konsorsium Eropa, serta AGM-158 Joint Air-to-Surface Standoff Missile, Lockheed Martin, USA. 

HSFTB LAPAN sempat jatuh (stall), saat melakukan manuver akibat kehilangan daya dorong. Kejutan daya dorong yang berubah mendadak, tidak bisa diantisipasi oleh aerodinamika HSFTB. Setelah mencoba selama dua tahun, Hasil yang dicapai HSFTB yang diluncurkan dengan booster, lebih baik dibandingkan wahana yang diluncurkan dengan engine. Kini peluncuran dengan booster merupakan pilihan yang dikembangkan lebih lanjut. Semuanya itu terus diujicoba di Serpong Tangerag Banten, Garut- Jawa Barat, serta di Baturaja, Sumatera Selatan. 
   
Jika proyek itu berjalan lancar, Indonesia segera memiliki roket pengorbit satelit ke luar angkasa dan peluru kendali strategis jarak jauh. So come and joint with LAPAN.

SASARAN KEGIATAN LAPAN 2013

Published on: // , ,

SASARAN KEGIATAN LAPAN 2013




 Sasaran Kegiatan LAPAN 2013 


Sasaran kegiatan ini akan dicapai dalam tiga tahun anggaran yaitu tahun anggaran 2012, 2013 dan 2014. Sasaran hasil kerja tahun 2013 adalah sebagai berikut:

 1. Pusat Teknologi Roket 




a. Dengan dilengkapinya sarana dan prasarana yang dilakukan sampai tahun 2012 maka di Lapan sudah ada peningkatan kualitas untuk kegiatan disain, fabrikasi dan pengujian roket, sehingga pada tahun 2013 dapat ditingkatkan performance roket melalui peningkatan Isp (Impuls Spesific) dari 216 s menjadi 230 s dan penurunan rasio berat struktur dari 0,4 menjadi 0,35. Peningkatan Isp tersebut dicapai melalui optimalisasi komposisi propelan, penggunaan tiga macam ukuran Ammonium Perkhlorat (AP tri-modul), dan burning rate catalyst. Sedangkan penurunan rasio struktur dicapai melalui peralatan manufaktur struktur yang telah diremajakan dan peralatan plasma coating.

b. Kegiatan utama peroketan Lapan tahun 2013 adalah Ekspedisi Morotai, yaitu melaksanakan kegiatan peluncuran roket RX-122, RX-200, RX-320, RX-450 dan RX-550 di Morotai. Kegiatan peluncuran roket tersebut dilaksanakan setelah uji statik setiap roket berhasil dilaksanakan. 

Disamping pencapaian sasaran di atas, fasilitas yang dikembangkan di Lapan di bidang peroketan juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan program roket nasional (konsorsium) untuk penggunaan di bidang pertahanan dan pemanfaatan lainnya. Untuk tahun 2013 program roket konversi mempunyai sasaran empat prototip, yaitu RX-122 dengan jangkauan 23 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km, RX-320 dengan jangkauan 70 Km dan RX-450 dengan jangkauan diatas 100 Km (roket 3 digit).

c. Pengembangan Roket Cair pada tahun 2013 mempunyai sasaran :


  • • Prototipe Enjin roket cair kapasitas 1000 kgf dan 2000 kgf dengan sistem pendingin regenerative cooling yang mampu menahan panas pembakaran hingga 20 detik;
  • • Rancangan lanjut pompa turbin untuk sistem pengumpan roket cair;
  • • Rancangan awal sistem pengumpan berbasis cryogenic.

d. Pengembangan Roket Kendali pada tahun 2013 mempunyai sasaran prototipe roket kendali dengan sistem propulsi roket padat (booster), Electrical Ducted Fan (RKX-200EDF) dan Turbo Jet (RKX-200TJ) berkecepatan 250 km/jam, terbang secara AutoPilot, dengan menitik beratkan pada Uji Darat (simulasi HILS, Wind Tunnel dan Captive Test) sebelum akhirnya dilakukan Flight Test. Serta peningkatan performance RKX-200 khususnya pada bagian Separasi, Booster dan Aktuator.


 2. Pusat Teknologi Satelit 


a. Mengirim Satelit Lapan-A2 ke SDSC (Satish Dawan Space Center), Shriharikota, India. Menempatkan sejumlah engineer untuk mengawasi dan memantau kondisi Satelit Lapan-A2, serta menyiapkan dan membangun sistem remote monitoring untuk memantau satelit dari Indonesia hingga hari peluncuran, yang direncanakan pada kuartal pertama 2014.

b. Menyiapkan sarana pendukung (infrastruktur, SDM dan SOP) untuk operasi kendali satelit (TT&C), akuisisi & pengarsipan data misi Satelit Lapan-A2. Penyelesaian dan penyempurnaan sistem otomatisasi operasi Stasiun Bumi, TTC dan akuisisi data misi, untuk mengurangi SDM pada kegiatan operasi rutin dan memberdayakannya guna mendukung kegiatan penelitian, perekayasaan dan AIT satelit.

c. Menyiapkan clean-room dan sarana-uji sistem lensa/fokus kamera untuk melihat jarak jauh, bagi pelaksanaan AIT (Assembly, Integration and Test) Satelit Lapan-A3. Clean-room kelas 100.000 berukuran 10x5m adalah primer untuk integrasi komponen high rate X-band transmitter, dan lensa/detektor optis pada sistem pencitra push-broom Imager 4 kanal. 

Target AIT adalah dihasilkannya Flight Model (FM) satelit Lapan-A3 dengan capaian 70%. Pelaksanaan AIT satelit masih membutuhkan supervisi, konsultasi dan peningkatan kualitas SDM Lapan. Mengadakan sejumlah alat-ukur untuk melengkapi fasilitas uji RF di dalam negeri, untuk memenuhi persyaratan uji EMI/EMC satelit, baik untuk downlink data misi pada frekuensi 8.0 s/d 8.4 GHz, maupun TT&C satelit pada pita VHF/UHF.

d. Menyiapkan konsep awal rancangan satelit Lapan-A4. Satelit Lapan- A4 merupakan pengembangan lanjut dari Satelit Lapan-A3, dimana imagernya akan ditingkatkan dengan pencitra inframerah dekat (Near Infra red, NIR). Prosesnya dimulai dengan kajian komprehensif mengenai sub-sistem satelit dan komponen ruas-bumi untuk imager visible s/d inframerah dekat, pembelajaran teknologi sensor inframerah-dekat tanpa cooler (bolometer) serta identifikasi kebutuhan koreksi data imager infra-merah dekat. Target kegiatan Lapan-A4 meliputi pembuatan dokumen PDR (Preliminary Design Review), peningkatan kemampuan SDM tentang sensor Bolometer dan pengadaan komponen dasar satelit.

e. Mempererat kerjasama luar negeri dengan Chiba, Hokaido dan Tohoku University, untuk belajar sistem satelit Jepang dan teknologi Radar dan Optis. Menjajaki kemungkinan peluncuran satelit menggunakan wahana peluncur Jepang. Misi Synthetic Aperture Radar (SAR) menjadi target terakhir pada penguasaan teknologi satelit kelas 100 kg, yang selanjutnya kegiatan pembangunan dan penguasaan teknologi satelit bergeser ke satelit kelas mini/small. 


Dalam rangka mempersiapkan diri menuju ke satelit kelas mini/small, Pusteksat bersinergi dengan unit kerja lain di Lapan/Nasional dalam menyusun konsep satelit remote-sensing operasional untuk bahan kajian pembangunan satelit konsorsium. 
Program ini akan dimanfaatkan untuk pembelajaran guna mengatasi fase sulit saat transisi dari fase satelit eksperimen ke satelit operasonal. Sinergitas semua pemangku kepentingan dan pemberdayaan semua potensi Nasional, menjadi poin penting akan keberlangsungan program, termasuk target penguasaan teknologi satelit di Lapan.

f. Berperan aktif dalam menjaga slot dan filing satelit Lapan melalui kegiatan Koordinasi Satelit. Meningkatkan Filing Lapan-A3 (X-band, bandwidth 168MHz) menjadi berstatus API (Advance Publication Information) serta pengajuan filing baru untuk Satelit Lapan-A4, khususnya terkait dengan rencana penggunaan TTC S-band. 

Aktifitas didalam negeri, fokus pada penyelesaian ISR (Izin Stasiun Radio) bagi Stasiun Bumi Rumpin, Rancabungur dan Biak. Penyelesaian sertifikat perangkat, usulan penggunaan TTC S-band dan perlindungan stasiun penerima/TTC dari gangguan frekuensi lain dengan radius 5 km serta aktif pada rapat koordinasi dengan operator satelit, pengguna pita-X, pita-S, pita-L, UHF dan VHF untuk melindungi penggunaan frekuensi riset dirgantara Lapan.


 3. Pusat Teknologi Penerbangan 




a. Di tahun 2013 akan dihasilkan sebuah pesawat ringan dua penumpang berbasiskan S15 dengan modifikasi sistem surveillance untuk kebutuhan pemetaan dan pemantauan (LSA-01). Dalam program ini, akan di laksanakan training 6 orang engineer di Technische Universitat Berlin (TU Berlin) dan di Stemme (sebuah perusahaan UKM Jerman) untuk melakukan reverse engineering terhadap pesawat S15. 

Pembuatan prototype LSA-01 akan dilakukan di Jerman, sedangkan integrasi akhir akan dilakukan di Indonesia. Untuk menguji kinerja LSA-01 ini, pengujian terbang akan dilakukan di akhir tahun 2013. Dari program ini akan dihasilkan juga sebuah desain konsep pesawat ringan hybrid untuk pemantauan, yang merupakan kelanjutan dari pengembangan LSA-01. Disamping itu, beberapa engineer akan ikut serta dalam pengujian pesawat LSA unmanned yang tengah dikembangkan TU Berlin bekerjasama dengan Stemme.

b. Akan dihasilkan sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan membawa payload misi 10 Kg (LSU-03) yang mampu terbang secara autonomous dengan jarak jangkau 150 Km dan lama terbang 2 jam. Dalam program ini akan dilakukan pengembangan desain dan manufaktur LSU-03 dalam hal: Optimalisasi desain agar lebih aerodinamis dengan analisis, simulasi dan pengujian, optimalisasi perhitungan beban dan kekuatan struktur, serta optimalisasi pemilihan bahan. 

Beberapa prototype akan dibuat dan diuji terbang. Disamping itu akan dilakukan optimalisasi LSU-02 sehingga dapat mencapai jarak jangkau 150 km dan lama terbang 4 jam (pemecahan rekor MURI). Sedangkan aplikasi LSU ini akan diperluas pada bidang mitigasi bencana, pertanian, kehutaan, dan pertahanan.

c. Akan dihasilkan beberapa optimasi subsistem pesawat N219 seperti High Lift Device dan Airfoil. Dalam program ini akan dihasilkan data uji terowongan angin dan data hasil simulasi numerik CFD untuk optimasi Advance High Lift device, Airfoil design dan winglet pesawat N219. 

Adapun validasi hasilnya akan dilakuka noleh NLR Belanda. Disamping kegiatan penelitian di atas, jika di tahun 2013 ini program N219 mendapatkan dukungan dana dari pemerintah untuk pembuatan prototipe, Lapan akan ikut berpartisipasi dalam pembuatan prototype pesawat N219 tersebut.(GM)
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!